Wisata Alam di Lembata Tak Ada Duanya

Wisata Alam di Lembata Tak Ada Duanya

Sepertinya banyak yang belum pernah mendengar tentang Lembata. Untuk itu artikel ini akan menjelaskan tentang Lembata terutama objek wisata alamnya yang juara. Lembata adalah sebuah kabupaten yang berada di Nusa Tenggara Timur berupa pulau yang terletak di antara Alor dan Flores. Daerah bagian timur Indonesia memang wajib dieksplorasi karena keindahannya tak ada duanya. Memang akses menuju ke sana cukup sulit, naik pesawat pun harus transit beberapa kali. Jika ingin menghemat biaya harus menggabungkan 2 noda transportasi yaitu via udara dan laut. Namun satu hal yang pasti, kesulitan itu akan terbayar lunas dengan keindahan tempat-tempatnya yang sangat indah. Berikut ini beberapa destinasi wisata alam unggulan yang dimiliki oleh Lembata.

  • Bukit Cinta Lembata

Wisata Alam Bukit Cinta Lembata

@stenlymaking

Bukit cinta terletak di Desa Bour yang termasuk Kecamatan Nubatukan. Bukit ini diberi nama bukit cinta karena memang ada sebuah prasasti yang bertuliskan ‘LOVE’ di puncak bukit ini. Sekilas bukit ini mirip Gili Laba di Flores karena daerah NTT memang memiliki ciri khas bukit yang seperti itu. Tidak sulit untuk mencapai puncak bukit ini karena aksesnya sudah bertangga yang terbuat dari beton. Prasasti itu dihinggapi oleh sepasang patung tangan pada huruf O dan V yang membentuk gambar hati. Gagasan untuk membangun prasasti ini muncul karena trend wisata kekinian harus memiliki ikon yang instagramable. Hal tersebut benar adanya, bukit ini menjadi ramai dikunjungi oleh pemuda pemudi yang gemar berfoto untuk diposting ke instagram. Pemandangan yang disuguhkan di atas bukit ini tentunya pemandangan kota Lembata yang berbukit dan bersawah-sawah. Untuk sampai ke tempat ini harus menyewa kendaraan karena tidak ada angkutan umum yang melintas. Memang sangat disarankan untuk menyewa mobil agar bisa berkeliling ke tempat-tempat indah di Lembata.

  • Pantai Bean

Wisata Alam Pantai Bean

@nuriska13

Ikon Pulau Lembata ini wajib dikunjungi karena banyak orang setempat yang berkata ‘Jangan ngaku pernah ke Lembata kalau belum pernah ke Pantai Bean’. Destinasi kebanggaan masyarakat Lembata ini memang sangat indah. Pasir pantai yang putih, ombak yang bersahabat, dan warna air laut yang sama birunya dengan langit menjadi suguhan mewah di pantai ini. Menurut wisatawan asing, Pantai Bean adalah duplikat dari Phuket di Thailand Selatan. Pantai ini terletak di ujung timur pulau Lembata yakni sekitar 82 km dari pusat kota Lewoleba. Pantai Bean bisa ditempuh selama 40 menit dengan moda transportasi darat. Namun akses jalan menuju pantai ini masih belum bagus.

Kepoin Yang Ini  Manggarai Timur, Pusat Keindahan Flores dari Sisi Lain

Ombak laut di pantai ini bergulung terus menerus dan pecah secara teratur sehingga cocok untuk berselancar. Pantainya cukup landai dan suasananya tenang sehingga akan menjadi destinasi yang pas bagi Anda yang butuh ketenangan. Keindahan panorama yang disuguhkan berupa pantai dengan hamparan pasir putih, hempasan ombak yang cukup besar, tebing dan gua alam yang sangat memikat. Tidak ada biaya apapun untuk mengunjungi pantai ini karena belum dikelola secara professional oleh masyarakat atau pemerintah setempat. A

nda akan merasa betah berlama-lama di sini karena masyarakat setempat sangat ramah dan welcome kepada para pengunjung.

  •  Jeti Lewoleba

Wisata Alam Jeti Lewoleba

@lyanatalya24

Jeti Lewoleba adalah nama sebuah pelabuhan di Lembata yang tidak seperti pelabuhan pada umumnya. Pelabuhan ini memiliki panorama yang sangat indah karena air laut di sekitarnya sangat jernih dan tertata apik. Tidak seperti pelabuhan pada umumnya, pelabuhan ini tidak terlalu ramai sehingga tidak akan terlihat semrawut. Terdapat gunung yang menjadi latar belakang pelabuhan yang sangat indah maka tak heran kalau orang yang pernah datang ke tempat ini pasti berkata bahwa ini adalah pelabuhan terindah di Indonesia. Uniknya, pelabuhan ini merupakan tempat yang sangat cocok untuk berburu sunrise dan sunset sekaligus. Biasanya tempat lain hanya memiliki satu momen indah saja, namun tidak dengan Jeti Lewoleba.

  • Kampung Lamalera

Wisata Alam Kampung Lamalera

@rickyadrian

Kampung Lamalera terkenal dengan tradisi perburuan yang berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu. Musim perburuan ikan paus di Desa Lamalera ini berlangsung pada Mei hingga Oktober. Tidak seperti nelayan-nelayan modern di Jepang yang memburu paus dengan kapal-kapal besar dan canggih, nelayan Lamalera hanya naik peledang yakni perahu kayu tradisional sebagai sarana perburuan. Untuk menikam paus, nelayan di tempat ini memakai lamafa berupa sebilah tempuling atau tombak. Untuk mendapatkan paus, nelayan di Lamalera tidak langsung terjun ke laut untuk mencari hingga ke tengah samudera Laut Sawu. Mereka tetap beraktivitas di darat, sewaktu-waktu melihat ke lautan. Siapa pun yang melihat paus akan meneriakkan baleo, yang akan diteriakkan oleh semua orang sampai terdengar ke seluruh desa.

Kepoin Yang Ini  Surga yang Dirindukan di Sumba Timur

Paus yang diincar adalah paus sperma atau koteklema yang memiliki semburan di atas kening karena itu perintah nenek moyang mereka. Selain koteklema, nelayan Lamalera juga memburu orca atau paus pembunuh yang disebut dengan seguni dalam bahasa setempat. Seguni jarang lewat, hanya setahun sekali atau malah tidak lewat sama sekali dalam setahun. Tombak yang dihunjamkan harus tepat di belakang kepala karena bagian lunak dari paus. Jika memburu seguni biasanya lebih sulit karena harus mengincar bagian ketiaknya agar tempuling bisa menusuk langsung ke jantung paus tersebut. Tikaman pertama menjadi peristiwa yang amat krusial karena nyawa lamafa dan awak perahu menjadi taruhan. Sekali sabetan ekor paus bisa menghancurkan perahu nelayan seketika. Para nelayan harus menunggu sampai paus lemas sekitar 45–50 menit. Darah akan menggenangi laut dan paus akan kembali ke permukaan. Tikaman akan dilakukan berkali-kali agar paus itu mati saat dibawa ke darat.

Pembagian daging paus hasil buruan menjadi pemandangan yang menarik karena hal ini masih termasuk tradisi turun-temurun. Pola pembagian daging paus sesuai perannya saat pemburuan. Bagian sirip kanan dan kiri diberikan kepada rumah adat dan lamafa. Bagian kepala diberikan kepada lango fujo atau suku tuan tanah. Ekor dibagi menjadi banyak bagian karena ada hak lamafa, laba ketilo, matros, lamauri. Para janda juga mendapatkan hak daging paus. Ritual perburuan paus ini tidak hanya tradisi tetapi memiliki nilai religius. Mulai dari persiapan, pembuatan kapal, pengangkatan layar, sampai pelemparan tombak, semuanya dilakukan dengan berdoa terlebih dahulu.

Kepoin Yang Ini  Ayo Mainkan Pasir Pantai Mbawana

Menjelang perburuan bahkan diadakan upacara adat sekaligus misa di gereja untuk memohon berkah dari leluhur dan mengenang nenek moyang yang gugur di medan Bahari karena bergelut dengan sang paus. Upacara dan Misa atau biasa disebut lefa dilaksanakan setiap tanggal 1 Mei karena setiap tahun ikan-ikan paus itu bermigrasi antara Samudera Hindia dan Pasifik selama bulan Mei sampai Oktober sehingga perburuan juga dilakukan pada bulan-bulan tersebut.

Ternyata objek wisata di Lembata tidak sekedar tempat yang dikunjungi tetapi juga harus dipelajari karena terdapat kisah yang tersimpan. Kisah-kisah tersebut bagian dari kebudayaan yang harus terpelihara. Kalau bukan kita yang menjaga budaya, siapa lagi? Jika tidak dijaga pasti akan lekang oleh waktu.

Tinggalkan komentarmu disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.